Kebudayaan merupakan keseluruhan cara hidup suatu masyarakat atau warisan sosial yang diperoleh individu dari kelompoknya, begitu menurut Clyde Kluckhohn dalam bukunya Mirror for Man. Kebudayaan juga merupakan suatu identitas yang melekat pada kehidupan suatu masyarakat. Oleh sebab itu, menurut Kuncoro Ningrat kebudayaan sebagai hasil karya cipta dan karsa manusia yang diwariskan secara turun temurun sudah semestinya dipelihara agar tak lekang oleh perjalanan waktu.
Dalam konteks kebudayaan, masyarakat Bawean atau yang biasa dikenal dengan sebutan pulau putri juga memiliki ragam kebudayaan dan tradisi yang tak kalah menariknya dengan kebudayaan-kabudayaan lain yang ada di nusantara ini. Namun, kini seiring berjalannya waktu dan gencarnya gempuran budaya luar (popular culture) lambat laun ragam budaya dan tradisi masyarakat Bawean kian hilang.
Saat ini, mungkin yang terlihat eksis hanya tinggal beberapa kebudayaan saja, seperti kercengan, dan tradisi pencak silat. Tradisi atau kebudayaan lain yang tanpaknya kini sudah mulai jarang terlihat meliputi tradisi adhungka, mandiling, saman, anyaman tikar, kebiasaan berpantun, dan masih banyak lagi kebudayaan-kebudayaan lain yang kini sudah mulai menghilang.
Budayawan Bawean, Mohammad Nasir Abrari (50), punya keresahan tersendiri terkait dengan hilangnya beragam tradisi dan kebudayaan yang dimiliki masyarakat Bawean. Menurut bapak tiga anak itu, ada banyak hal yang menyebabkan hilangnya tradisi yang ada di Bawean, salah satunya karena tidak adanya sarana dan prasarana (sanggar seni) untuk pengembangan budaya. Bahkan, pemerintah kabupaten, kecamatan, kepala desa dan masyarakat Bawean sendiri pun seolah tidak mau tahu (apatis), atau dengan kata lain tidak merasa resah melihat kondisi yang ada saat ini.
Di kalangan masyarakat Bawean sendiri, Nasir biasanya dikenal sebagai sosok yang memiliki loyalitas tinggi terhadap upaya mengembangkan kreasi budaya Bawean yang saat ini kian memudar. Sekalipun dalam aktifitas sehari-harinya banyak disibukkan oleh pekerjaannya sebagai pegawai bea cukai di pelabuhan Gresik, namun hal itu tak sedikit pun mengurangi semangatnya untuk terus berupaya menumbuhkan kembali budaya Bawean yang hilang.
Saat ini, dia berencana untuk mendirikan sanggar seni sebagai sarana pengembangan budaya masyarakat Bawean. Sayangnya, sampai saat ini keinginan besarnya itu belum juga sempat terealisir karena terbentur oleh persoalan dana.
Menurut penuturan bapak yang memiliki kebiasaan bersiul itu, ke depannya, Bawean sangat potensial sebagai daerah wisata, apalagi dalam waktu dekat ini pembangunan bandara sudah selesai. “Lantas apa daya tawar kita terhadap para wisatawan kalau bukan ke khasan tradisi dan budaya yang dimiliki oleh masyarakat Bawean?”, begitu menurut penuturan bapak yang suka berpenampilan sederhana.
“Jadi, maksud saya begini, misalnya nanti pesawat terbang sudah masuk ke Bawean, begitu para turis masuk ke Bawean, sangat terasa nuansa atau suasana khas Bawean. Artinya, di bandara sudah tidak terdengar lagi lagu-lagu disko, tapi yang terdengar adalah lagu-lagu Bawean, sofenir-nya juga buah tangan ala Bawean. selain itu, ada juga pameran hasil kreasi budaya Bawean seperti anyaman tikar. Alangkah eloknya lagi kalau dibuat jadwal, contoh hari ini PKK dari desa A yang mengisi acara khas budaya Bawean ketika menyambut kedatang para wisatawan, besoknya lagi desa B. Dengan demikian, bagitu mereka masuk ke Bawean nuansa khas Bawean benar-banar terasa, kayak di Bali itu lah”, kata Nasir mencontohkan.
Namun, untuk menumbuhkan dan mengembangkan tradisi dan kebudayaan Bawean dibutuhkan kerja sama (kolektif), karna menurut budayawan Bawean tersebut hal itu sangat sulit bisa terwujud (terealisir) tanpa dibarengi oleh adanya kerja sama yang baik, dan dibutuhkan kerja keras. “Orang Bawean itu punya kebiasaan ingin hasil instan (sekarang juga), padahal kalau kita menekuni apa saja asal dengan tekun, maka akan menbuahkan hasil yang baik.
“Saat ini, kenapa masyarakat Bawean lebih senang nonton TV dari pada main dhungka, salah satu faktornya adalah karna tidak adanya sarana pengembangan budaya. Hal lain yang bisa dilakukan untuk mengangkat kembali budaya dhungka, perlu diadakan festifal dhungka secara terus menerus setiap berapa bulan sekali di tingkat pedukuhan, kemudian yang terbaik dilombakan di tingkat desa, lalu dari tingkat desa kemudian ke tingkat kecamatan. Bila agenda seperti itu terus berlangsung, maka lambat laun tradisi dhungka akan diminati lagi oleh masyarakat Bawean,” begitu Nasir mengungkapkan.”
Selain karena tidak adanya sanggar budaya sebagai sarana untuk mengembangkan budaya Bawean, hal lain yang penting untuk diperhatikan terkait dengan keberlangsungan budaya Bawean yakni soal regenerasi (penerus). Saat ini, tak banyak masyarakat Bawean khususnya kalangan muda yang mengerti tentang kebudayaan Bawean. Karena kalau hal itu terus menerus dibiarkan tanpa ada keberlangsungan proses regenerasi, maka tinggal menunggu waktu saja kebudayaan Bawean hanya akan tinggal nama dan kenangan. “Misalnya pendekar Husaini (guru pencak silat) mati, lalu siapa yang akan meneruskan kalau bukan generasi muda. Makanya, saya sekarang amat berharap sekali adanya kalangan muda penerus tradisi Bawean, seperti baca berzanji ketika Maulid Nabi, atau yang biasanya diadakan di pondok pesantren dan di langgar-langgar (surau).
Sekalipun pada dasarnya masyarakat Bawean berasal dari beberapa kepulauan yang ada di nusantara ini, dan bisa dipastikan kebudayaan yang ada di Bawean pun juga bukan murni kreasi asli Bawean, namun menurut Nasir, kebudayaan itu sudah berlangsung lama ada di Bawean, sehingga pada akhirnya proses inkulturasi tersebut melahirkan beragam budaya dan tradisi bersama yang keberadaannya mesti harus dijaga dan dikembangkan. Karena bagaimana pun itu merupakan suatu identitas kita sebagai masyarakat Bawean.
“Jadi, yang jelas budaya Bawean itu unik, dan mirip dengan kebudayaan di daerah lain, seperti samman di Aceh, tapi bukan samman Aceh,” tutur Nasir. Lebih lanjut, menurut bapak yang pernah menjadi pemenang juara 1 peminntasan teater di Singapure itu, selain samman, anyaman tikar juga ada di Madura, tapi berbeda dengan yang ada di Bawean. Kekhasan itu sendiri lahir karena tidak terlepas dari asal mula orang Bawean yang mayoritas berasal dari suku yang berbeda-beda, seperti Jawa, Sulawesi, Sumatra, Kalimantan dan Madura.
“Saya berharap, jangan sampai kita menjadi masyarakat yang kurang menghargai budaya kita sendiri. Salah satu contoh kasus yakni tarian reok yang sempat dipermasalahkan dengan Negara Malaysia. Selain itu, harapan saya agar budaya yang ada di Bawean di buat menarik. Menarik dalam tanda kutip ada hasilnya, ada penjenjangan kejuaraan. Jadi, intinya harus di buat menarik dan ada berharga. Kita, sebagai masyarakat Bawean harus sama-sama menjaga keberlangsungan tradisi dan kebudayaan masyarakat Bawean.”
Reportase: Basit
Laporan: Andi Setiawan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar