IPMABAYO

Rabu, 06 Januari 2010

“Dhungka, Tradisi Yang Terlupakan”

Oleh : Nawawi al-Juairiyah*

Di kalangan tokoh antropologi dikatakan bahwa budaya dan agama sama tuanya dengan manusia, budaya dan agama tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia apapun itu bentuknya. Bawean pulau kecil dan terpencil dari keramaian kota besar menambah kenyamanan terhindar dari hiruk-pikuk ramainya aktifitas kota metro politan, begitu juga dengan udaranya yang segar khas pegunungan yang sejuk menambah keindahan dan kenyamanan Bawean.
Masyarakatnya yang religius turut mewarnai kehidupan di dalamnya, tidak hanya itu di dalamnya terdapat bermacam-macam keunikan budaya hasil karya dan prakarsa manusia salah satu kenunikan budaya di Bawean adalah Dkungka yaitu semacam seni musik yang dilakukan oleh para wanita (ibu-ibu) yang biasanya dilakukan setelah selesai menumbuk padi (bahasa Baweannya “noto padi”).
Lessong “bahasa bawean” yang biasa digunakan sebagai alat untuk noto (menumbuk) padi juga berfungsi sebagai alat untuk melahirkan sebuah irama. Cara memainkannya cukup unik dan butuh kekompakan untuk memainkannya. Dengan kelincahan tangan ibu-ibu memukul lessong ini kemudian melahirkan suara yang merdu dan unik yang mampu menghipnotis siapa yang mendengarnya. Biasanya Dhungka dijadikan sebagai woro-woro (pengumuman).
Namun saat ini nampaknya Dhunka kurang mendapatkan apresiasi dari masyarakat Bawean dan mulai dilupakan, hal ini di pengaruhi oleh masuknya budaya luar “alat yang lebih praktis dan ekonomis dalam menggiling padi menjadi beras”. Sebelum mesin padi dikenal oleh masyarakat Bawean alat alternatif yang biasa digunakan adalah lessong untuk menyulap padi menjadi beras.
Bahkan untuk saat ini lessong yang dulu dijadikan alat menumbuk padi tidak dirawat sehingga punah dimakan rayap dan bahkan dijadikan bahan bakar untuk memasak karena memang terbuat dari kayu, yang seharusnya bisa dijadikan sebagai sanggar budaya. Apa ini yang dinamakan bangsa yang tidak mengahrgai budaya? Lantas, siapa yang patut disalahkan jika budaya di negeri ini di klain oleh negara lain?
Hal ini berbeda dengan sebagian daerah-daerah lain yang ada di Nusantara yang senantiasa menjaga budaya mereka dari kepunahan. Dhunka tidak hanya dikenal oleh orang Bawean, akan tetapi di Sumatra khususnya Aceh juga mengenal dhunka meski mungkin dengan istilah yang berbeda. Bahkan di Aceh dijadikan sebagai salah satu kekayaan budaya Nasioanal khas Aceh dan menjadi kebanggaan Indonesia secara umum. Masyarakat Aceh meski mereka sudah tidak lagi menggunakan alat tradisional untuk menjadikan padi menjadi beras dengan adanya mesin padi untuk saat ini, namun hal itu tidak mengurangi eksistensi tradisi “dhunka” di Aceh.
Kita tidak tahu apakah Bawean mempunyai hubungan erat dengan Aceh. Kalau kita kembali lagi pada sejarah Bawean, disana dijelaskan bahwa masyarakat Bawean terdiri dari berbagai suku yang ada di Nusantara khususnya Kalimantan, Sumatra, Jawa dll. Mungkin dengan ini dari masing-masing mereka mencuba melestarikan kebudayaan mereka di Bawean yang lambat laun budaya mereka dapat diterima dengan baik oleh masyarakat asli Bawean.
Namun, kesukuan mereka tidak menunjol mereka lebih dikenal dengan sebutan munorang Bawean meskipun mereka berbeda latar belakang dengan masyarakat pribumi (Bawean asli). Yang menarik dari tradisi athungka ini adalah biasa dilakukan ketika ada hajatan semacam pemberitahuan kepada masyarakat bahwa akan ada hajatan perkawinan atau hanya sebatas iseng untuk menghilangkan rasa penat ketika habis menumbuk padi.
Lessong alat untuk menumbuk padi dan sekaligus sebagai alat musik tradisional “adhungka” saat ini keberadaanya sudah menghawatirkan karena tidak adanya rasa saling untuk memiliki dan melestarikan budaya sendiri. Tidak mustahil jika lossong akan hilang dari kehidupan masyarakat Bawean yang terkikis oleh semakin majunya pemikiran masyarakat Bawean (menilai) perkembangan jaman dengan alat yang lebih praktis.
Di Jawa saya tidak tahu persis daerah mana yang pada Bulan Puasa tahun lalu pernah di liput di sebuah acara Televisi yang mirip dengan Dhungka yang ada di Bawean dan saya juga kurang tahu istilahnya mungkin apa. Namun yang jelas alat yang digunakan juga terdiri dari kayu dan gerakannyapun merip sama seperti yang dilakukan oleh Ibu-ibu Bawean ketika “adhunka”.
Namun acara itu dijadikan sebagai metode untuk membangunkan masyarakat untuk sahur, ternyata hal itu disamping sebagai cara untuk membangunkan masyarat untuk sahur juga menjadi hiburan tersendiri dan bahkan mandapat sorotan serta rasa ingin tahu dikalangan masyarakat.
Lantas kenapa masyarakat Bawean melupakan tradisi ”adhungka”? Apakah sudah tidak ada regenerasi lagi? Apakah pemuda-pemudi Bawean memang sudah mau lagi meneruskan tradisi ”adhungka” yang menajdi salah satu budaya bawean sejak dulu? Ataukah pemerintah dan para budayawan Bawean sudah tidak lagi ingin mempedulikan tradisi “adungkat” yang sudah hampir punah ini?
Dhungka sebagai salah satu budaya yang sudah terlupakan oleh masyarakat bawean harusnya bisa dilestarikan serta dapat dukungan penuh dari semua kalangan. Tapi nyatanya tradisi itu malah di biarkan mati surih bahkan sudah mendekati ke-punah-an karena tidak ada regenerasi dan peran pemerintah untuk melastarikannya.
Lantas bagai mana tradisi itu bisa di kita lestarikan lagi? Yang pertama harus ada generasi (kalangan muda) untuk melanjutkan tradisi ini hidup kembali. Yang kedua masyaraka (yang tua) harusnya memberikan motifasi pada yang muda untuk belajar menghargai budaya yang sudah sejak lama tumbuh. Yang ketiga, peran pemerintahlah yang sangat dibutuhkan. Artinya pemerintah disini memberikan wadah berupa tempat untuk latihan dan alat-alat yang di butuhkan. Serta, mengadakan festival untuk kelangsunga budaya itu sendiri. Jika tidak, jangan harapa tradisi itu bisa berkembang!!!.

Nawawi al-Juairiyah
Penulis adalah penikmat budaya asal Bawean
Mahasiwa Fakultas Usuludi UIN Sunan kalijaga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar